Setelah sebelumnya sempat sering diprotes karena jarang nulis pakai bahasa ibu sendiri, saya coba aja mungkin yaa.. haha

Sebetulnya banyak alasan saya malas menulis menggunakan bahasa Indonesia, karena salah satunya saya merasa belum bisa menulis pakai bahasa yang baik dan benar. Suka masih malu juga karena ngomong aja masih suka campur campur bahasa Inggris, malah kadang Jerman kalau ngobrol dengan sesama pelajar Indonesia yang tinggal disini. Tapi bukan berarti saya tidak cinta bahasa sendiri. Bahkan sepertinya saya terlalu cinta dengan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Bagaimanapun juga kan saya lahir dan delapan belas tahun hidup di Jawa.. Sayangnya saya sempat tumbuh dengan pola pikir bahwa semakin pintar bahasa Inggris semakin kamu gaul dan kalau bisa menyelipkan beberapa kata bahkan kalimat bahasa Inggris di dalam percakapan maka semakin keren lah kita.
Itu dulu ya, waktu masih labil dan masih muda, maunya paling keren dan gaul jadi ga sudi lah dengerin D'Massiv atau ST12. Sampai sekarang juga masih mikir-mikir kok kalau mau dengerin 😁

Alasan yang kedua karena yang membaca blog saya ternyata tidak cuma dari Indonesiaaa saudara-saudara. Jadi rasanya (mungkin ini perasaan saya aja) kalau mau menulis post pakai bahasa Indonesia kok sepertinya agak egois hehehe lagi pula saya niatnya dari awal ingin berbagi cerita ke sebanyak-banyak manusia.

Jadi apakah maksud dibalik saya tiba-tiba nulis post ini? Banyak.

Beberapa orang terdekat saya suka (lagi-lagi) protes kenapa saya jarang berbagi pengalaman selama tinggal di negara orang. Karena.. sebetulnya.. saya ngga kepikiran kalau pengalaman-pengalaman saya ini lebih istimewa dari orang lain sehingga patut ditulis di blog. Untuk yang belum kenal saya, saya tinggal di satu flat hampir dua tahun bersama dua orang Jerman (satu laki dan satu perempuan), satu anjing, satu kucing, dan satu kelinci. Mereka ini sudah seperti keluarga saya sendiri, bahkan sepertinya saya lebih sayang mereka daripada adik saya sendiri (ups. ngga kok, bercanda). Mereka ini yang menghibur kalau saya lagi susah, mendengarkan cerita ga penting saya tiap hari, partner olahraga, teman makan pagi/siang/malam dan partner diskusi mulai dari politik, kultur, agama, sampai kenapa orang Jerman Utara suka makan telur yang kuningnya warna orange.
Saya pun cukup sering dapat komentar macam "kok tinggal sama cowok sih, padahal pakai kerudung." atau "ih terus kalau mau sholat gimana kalau ada anjingnya di dalam rumah??" "kan orang bule suka minum/makan babi/bawa pacarnya pulang ke rumah." dan pertanyaan plus pernyataan serupa.
Faktanya, teman serumah saya dua-duanya tidak ada yang minum alkohol di rumah. Bukan karena saya, tapi karena kesadaran mereka sendiri bahwa alkohol bukan sesuatu yang esensial. Kalau ada teman datang mereka memang bawa wine, mereka mau minum juga saya tidak ada masalah, toh ngga ada yang sampai mabuk, muntah-muntah atau ngga bisa balik pulang ke rumah. Di rumah saya juga tidak ada yang makan daging babi. Lagi-lagi bukan karena saya tinggal disitu, tapi karena mereka sayang sekali sama binatang dan kalau ngga terpaksa ngga akan makan daging :) lah, pas banget kan? Saya tidak pernah sengaja cari flat yang orang-orangnya vegetarian juga lho.. tapi saya percaya, kalau orang yang sefrekuensi akan menarik orang lain yang juga sefrekuensi.

Mereka juga partner saya dalam humanitas, bersama mereka saya akhirnya tahu bagaimana rasanya ikut demo di Jerman menuntut hak-hak untuk pengungsi, membantu orang-orang yang mencari perlindungan ini belajar bahasa Jerman, dan lain lain, dan lain lain.. Ini bukan pamrih, cuma saya rasa kalau saya tidak tinggal dengan mereka, mungkin saya ngga akan bisa berkembang dan menjadi seperti sekarang ini.

Saya merasa meskipun mereka belum percaya agama (yang satu baru saja memutuskan keluar gereja dan yang satu lagi mengaku ateis), tapi mereka sudah menerapkan nilai-nilai agama saya tanpa melihat apakah mereka akan mendapat pahala atau tidak, akan masuk surga atau tidak. Justru disitu saya iri, karena mereka sudah jelas melakukan hal-hal tersebut dengan ikhlas meskipun bukan atas nama Allah sementara saya mungkin masih ada secuil rasa ingin diganti kebaikannya oleh Allah entah itu dengan pahala atau hal lainnya. Dan saya sudah sering juga didebat dan dinilai nyeleneh oleh orang, kalau prinsip saya "sebaiknya melakukan sesuatu jangan karena surga dan neraka tapi karena Allah" itu... ya nyeleneh. Lalu saya pikir, kenapa tidak kita lakukan aja dulu dengan bismillah, urusan dapat pahala atau tidak, masuk surga atau neraka itu bukan kuasa kita lagi, kan?

Kenapa saya belajar menghormati keputusan dan kehidupan orang lain serta belajar menjadi manusia yang welas asih dan lebih baik justru dari orang-orang yang dicap oleh banyak orang di negara saya dengan "kafir"? Saya sering sedih kalau mendengar kata tersebut, bahkan menulisnya saja saya kurang suka. Menurut saya, kita sebagai manusia tidak dalam kapasitas mencap seseorang itu "tersesat", "kafir" atau bahkan "salah" karena kebenaran itu datangnya dari Allah saja. Interpretasi kita akan kebenaran itu bukan kebenaran yang sesungguhnya, itu kan hanya opini dan keyakinan kita. Ilmu saya dalam hadits dan Al-Quran memang masih dangkal, tapi kadang saya ngga sampai hati dan jujur aja, sering miris kalau orang-orang yang mungkin hatinya penuh dengan cinta dan kebaikan seperti teman-teman satu flat saya dinilai "kafir" dan harus dijauhi.. lucunya, bahkan teman-teman saya ini sudah bisa menjelaskan kepada orang-orang Jerman lain kenapa saya pakai kerudung dan bahwa dalam kasus saya, itu bukan paksaan dari kaum laki-laki seperti citra perempuan berkerudung di dunia Barat selama ini.

Rasanya saya tidak pantas dipertemukan dengan orang-orang seperti mereka. Rasanya saya selalu kurang bersyukur.. dan rasa-rasa lain yang membuat saya ingin menangis setiap selesai sholat.

Jadi kalau ada yang bertanya kenapa saya sayang sekali dengan mereka atau kalau ada yang menganggap saya terlalu liberal dengan pemikiran-pemikiran beragama saya, saya ngga mau ambil pusing lagi. Toh yang rugi mereka, karena tidak merasakan indahnya bersaudara dalam perbedaan dan kemanusiaan. Justru saya merasa, Allah terlalu baik deh sepertinya sama saya yang bukan apa-apa ini..

Kaiserslautern, November 2015 (Demo gegen Pegida)

"Dia yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan." - Ali bin Abi Thalib



there are things i never imagined i would do.
i didn't know some smells can take you
to the memories you've long forgotten.
like the little kitten
that my grandma used to feed
or the smell of flowers 
in the middle of summer in spain.
the night i lie in bed while listening to lana del rey.

i always thought i was strong enough.
until i meet people.
sometimes i regret i've met people
and sometimes i cherish i've met them.
i don't think i'm strong anymore.

people build images of you in their minds.
you think you're doing well
and then you see them and they would tell
"you don't have to pretend,
i know, because i'm messed up too"
so i let my guards down
probably not the best thing i've ever done

i never really believed that you could tell
how sincere someone is
when you touch each other.
or when you kiss.
or when he strokes your hair.
i think i've found out the answer.




7 months later after my last post and here i am, just passed the cold winter winds, welcoming spring, sitting in my bed wrapped in a blanket and thinking about how things are going pretty well, actually. and also how massive difference 7 months could make really amazed me. so many things happened, i was even home in indonesia for a couple of weeks in october, had 3 different jobs in the last 6 months, met an annoying (fortunately) temporary housemate and got to know genuinely good people i'm later thankful for.

there were hard times, where i thought this might not work out or this could end up anywhere and i was betting myself that i could make it out (the odds were pretty small). beside having to make peace with everything around me, i also had to make peace with myself. self-acceptance is probably the hardest thing someone has to go through. the process to being fully content with what you are is never easy. whether it's internally or physically. 
i've had enough of looking at numbers on the scale, worrying about how much i weigh (like most girls do), where actually what matters most is that you're healthy and happy and feeling radiant. and that really, that's the last thing you should be worried of.
i'm not the touchy-feeliest girl in the world, but what i tend to do is overthink. this wave of emotions really went to my nerves. and i found out that knowing you can't be with someone you really care about hurts. like, a lot. so much that i cried my eyes out even though i strongly believe i would never cry over boys. but it's ok, when that's what was needed to let everything go. and then you realize you can't change people. they have their own minds and their own will and the most you can do is to show them how much you care and hope they'll someday find the right path. and then came the question: is what we believe, really is the right path? because right and wrong are always relative. everything becomes relative the moment you try to question it.

here's some fragments of a poetry i really love (when love arrives - sarah kay & phil kaye):

.....and love grew, stretched like a trampoline. love changed. love disappeared, slowly, like baby teeth, losing parts of me i thought i needed.
love vanished like an amateur magician, and everyone could see the trapdoor but me.
like a flat tire, there are places i planned on going but my plans didn't matter.
love stayed away for years, and when love finally reappeared, i barely recognized him.
love smelt different now, had darker eyes, a broader back, love came with freckles i didn't recognize.
new birthmarks, a softer voice.
now there were new sleeping patterns, new favorite books.
love had songs that reminded him of someone else, songs love didn't like to listen to. so did i.

.....

love is not who you were expecting, love is not who you can predict.
maybe love is always in the wrong time zone, maybe love is not ready for you.
maybe you are not ready for love.
maybe love just isn't the marrying type,
maybe love is only there for a month.
maybe love is there for every firework, every birthday party, every hospital visit.
maybe love stays- maybe love can't.
maybe love shouldn't.