Her Side of the Story

, , 4 comments
Setelah sebelumnya sempat sering diprotes karena jarang nulis pakai bahasa ibu sendiri, saya coba aja mungkin yaa.. haha

Sebetulnya banyak alasan saya malas menulis menggunakan bahasa Indonesia, karena salah satunya saya merasa belum bisa menulis pakai bahasa yang baik dan benar. Suka masih malu juga karena ngomong aja masih suka campur campur bahasa Inggris, malah kadang Jerman kalau ngobrol dengan sesama pelajar Indonesia yang tinggal disini. Tapi bukan berarti saya tidak cinta bahasa sendiri. Bahkan sepertinya saya terlalu cinta dengan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Bagaimanapun juga kan saya lahir dan delapan belas tahun hidup di Jawa.. Sayangnya saya sempat tumbuh dengan pola pikir bahwa semakin pintar bahasa Inggris semakin kamu gaul dan kalau bisa menyelipkan beberapa kata bahkan kalimat bahasa Inggris di dalam percakapan maka semakin keren lah kita.
Itu dulu ya, waktu masih labil dan masih muda, maunya paling keren dan gaul jadi ga sudi lah dengerin D'Massiv atau ST12. Sampai sekarang juga masih mikir-mikir kok kalau mau dengerin 😁

Alasan yang kedua karena yang membaca blog saya ternyata tidak cuma dari Indonesiaaa saudara-saudara. Jadi rasanya (mungkin ini perasaan saya aja) kalau mau menulis post pakai bahasa Indonesia kok sepertinya agak egois hehehe lagi pula saya niatnya dari awal ingin berbagi cerita ke sebanyak-banyak manusia.

Jadi apakah maksud dibalik saya tiba-tiba nulis post ini? Banyak.

Beberapa orang terdekat saya suka (lagi-lagi) protes kenapa saya jarang berbagi pengalaman selama tinggal di negara orang. Karena.. sebetulnya.. saya ngga kepikiran kalau pengalaman-pengalaman saya ini lebih istimewa dari orang lain sehingga patut ditulis di blog. Untuk yang belum kenal saya, saya tinggal di satu flat hampir dua tahun bersama dua orang Jerman (satu laki dan satu perempuan), satu anjing, satu kucing, dan satu kelinci. Mereka ini sudah seperti keluarga saya sendiri, bahkan sepertinya saya lebih sayang mereka daripada adik saya sendiri (ups. ngga kok, bercanda). Mereka ini yang menghibur kalau saya lagi susah, mendengarkan cerita ga penting saya tiap hari, partner olahraga, teman makan pagi/siang/malam dan partner diskusi mulai dari politik, kultur, agama, sampai kenapa orang Jerman Utara suka makan telur yang kuningnya warna orange.
Saya pun cukup sering dapat komentar macam "kok tinggal sama cowok sih, padahal pakai kerudung." atau "ih terus kalau mau sholat gimana kalau ada anjingnya di dalam rumah??" "kan orang bule suka minum/makan babi/bawa pacarnya pulang ke rumah." dan pertanyaan plus pernyataan serupa.
Faktanya, teman serumah saya dua-duanya tidak ada yang minum alkohol di rumah. Bukan karena saya, tapi karena kesadaran mereka sendiri bahwa alkohol bukan sesuatu yang esensial. Kalau ada teman datang mereka memang bawa wine, mereka mau minum juga saya tidak ada masalah, toh ngga ada yang sampai mabuk, muntah-muntah atau ngga bisa balik pulang ke rumah. Di rumah saya juga tidak ada yang makan daging babi. Lagi-lagi bukan karena saya tinggal disitu, tapi karena mereka sayang sekali sama binatang dan kalau ngga terpaksa ngga akan makan daging :) lah, pas banget kan? Saya tidak pernah sengaja cari flat yang orang-orangnya vegetarian juga lho.. tapi saya percaya, kalau orang yang sefrekuensi akan menarik orang lain yang juga sefrekuensi.

Mereka juga partner saya dalam humanitas, bersama mereka saya akhirnya tahu bagaimana rasanya ikut demo di Jerman menuntut hak-hak untuk pengungsi, membantu orang-orang yang mencari perlindungan ini belajar bahasa Jerman, dan lain lain, dan lain lain.. Ini bukan pamrih, cuma saya rasa kalau saya tidak tinggal dengan mereka, mungkin saya ngga akan bisa berkembang dan menjadi seperti sekarang ini.

Saya merasa meskipun mereka belum percaya agama (yang satu baru saja memutuskan keluar gereja dan yang satu lagi mengaku ateis), tapi mereka sudah menerapkan nilai-nilai agama saya tanpa melihat apakah mereka akan mendapat pahala atau tidak, akan masuk surga atau tidak. Justru disitu saya iri, karena mereka sudah jelas melakukan hal-hal tersebut dengan ikhlas meskipun bukan atas nama Allah sementara saya mungkin masih ada secuil rasa ingin diganti kebaikannya oleh Allah entah itu dengan pahala atau hal lainnya. Dan saya sudah sering juga didebat dan dinilai nyeleneh oleh orang, kalau prinsip saya "sebaiknya melakukan sesuatu jangan karena surga dan neraka tapi karena Allah" itu... ya nyeleneh. Lalu saya pikir, kenapa tidak kita lakukan aja dulu dengan bismillah, urusan dapat pahala atau tidak, masuk surga atau neraka itu bukan kuasa kita lagi, kan?

Kenapa saya belajar menghormati keputusan dan kehidupan orang lain serta belajar menjadi manusia yang welas asih dan lebih baik justru dari orang-orang yang dicap oleh banyak orang di negara saya dengan "kafir"? Saya sering sedih kalau mendengar kata tersebut, bahkan menulisnya saja saya kurang suka. Menurut saya, kita sebagai manusia tidak dalam kapasitas mencap seseorang itu "tersesat", "kafir" atau bahkan "salah" karena kebenaran itu datangnya dari Allah saja. Interpretasi kita akan kebenaran itu bukan kebenaran yang sesungguhnya, itu kan hanya opini dan keyakinan kita. Ilmu saya dalam hadits dan Al-Quran memang masih dangkal, tapi kadang saya ngga sampai hati dan jujur aja, sering miris kalau orang-orang yang mungkin hatinya penuh dengan cinta dan kebaikan seperti teman-teman satu flat saya dinilai "kafir" dan harus dijauhi.. lucunya, bahkan teman-teman saya ini sudah bisa menjelaskan kepada orang-orang Jerman lain kenapa saya pakai kerudung dan bahwa dalam kasus saya, itu bukan paksaan dari kaum laki-laki seperti citra perempuan berkerudung di dunia Barat selama ini.

Rasanya saya tidak pantas dipertemukan dengan orang-orang seperti mereka. Rasanya saya selalu kurang bersyukur.. dan rasa-rasa lain yang membuat saya ingin menangis setiap selesai sholat.

Jadi kalau ada yang bertanya kenapa saya sayang sekali dengan mereka atau kalau ada yang menganggap saya terlalu liberal dengan pemikiran-pemikiran beragama saya, saya ngga mau ambil pusing lagi. Toh yang rugi mereka, karena tidak merasakan indahnya bersaudara dalam perbedaan dan kemanusiaan. Justru saya merasa, Allah terlalu baik deh sepertinya sama saya yang bukan apa-apa ini..

Kaiserslautern, November 2015 (Demo gegen Pegida)

"Dia yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan." - Ali bin Abi Thalib



4 comments:

  1. Halo Rara yang sedang merasa beruntung :-)

    Ekspresimu dalam bahasa Inggris memang lebih lugas dan gagah ya.... Tapi perlu juga kita berlatih bahasa Indonesia dengan baik, supaya bisa "berbicara dengan bahasa kaumnya" ;-).

    Anyway, suka sekali dengan pengalamanmu ini. Pengalaman merasakan/menerima "better than I deserve" ...
    Saya juga berharap merasa begitu sepanjang waktu ...

    Salam hangat dari Bandung ...
    Tuty Yosenda

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hallo Tante Tuty,
      iya bener ternyata nulis pakai bahasa Indonesia ada enaknya juga.. baru sadar hehe namanya juga bahasa sendiri. Alhamdulillah kalau suka, kadang juga aku suka lupa jadi harus 'disentil' dulu sama Allah biar ingat bersyukur lagi..

      Semoga ga bosan kasih feedback yang membangun, Tante :)

      Delete
  2. Hello mbak....ahhhh saya suka sekali cara pandangmu.ini. kerennnnn ahh!
    Saya teman ibumu...waktu kuliah. Salam kenal ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hallo Tante, salam kenal juga.. makasiiihh kalo ada saran dengan senang hati diterima karena masih belajar nulis juga hehe

      Delete