edisi kali ini adalah edisi asal jalan tapi seru dan ga keluar banyak duit. oh iya selama bukan high season, cari hostel yang murah di Ubud lumayan gampang, harga rata-rata sekitar 200-350 ribu aja semalam.

dari Ubud kami naik travel ke kota pelabuhan Padang Bai. ini saya sarankan kalau belum terlalu tau jalan dan ngga bawa kendaraan pribadi. salah satu tour & travel yang bisa saya sarankan adalah Perama. kami bayar 175 ribu untuk rute Ubud-Senggigi lewat Padang Bai. dari Padang Bai kami naik kapal ferry biasa, cukup 15 ribu rupiah sampai pelabuhan Lembar, Lombok. tapi ya namanya cuma bayar 15 ribu, kami butuh waktu sekitar 6 jam buat nyebrang dari Padang Bai ke Lembar. dari Lembar kami naik travel lagi, masih dari Perama dan memutuskan menginap semalam di Senggigi. lagi lagi cukup gampang buat nemu hostel murah, untungnya kami selama disana bukan saat high season. tips dari saya, coba cari penginapan lewat laman internet Airy Rooms, karena penginapan-penginapannya cukup bersih dan terjangkau.

di Senggigi sayangnya menurut kami pantainya tidak terlalu spesial. sore menjelang matahari terbenam kami jalan kaki (seperti biasa) menuju pantai, karena ngga nemu apa-apa jadi kami duduk duduk di pinggir pantai, main gitar dan nyanyi dengan dua penduduk lokal yang ternyata bisa bahasa jerman sedikit sedikit. paginya karena kami bingung mau pilih jasa fast boat atau public boat yang mana untuk menyeberang ke Gili Meno (dan karena saya jalan bareng dua turis asing yang sudah kaya mangsa empuk), datang lah dua orang ke arah kami. yang satu supir taksi, yang satu supir angkutan umum. setelah tawar menawar yang sengit jadilah kami nyewa satu "mobil" angkutan umum menuju Bangsal, kota pelabuhan sebelum ke Gili. cukup 100 ribu aja buat tiga orang. ini seru juga, karena sepanjang jalan kami bisa lihat pantai-pantai di Lombok yang indah dari dalam angkutan yang pintu belakangnya sengaja terbuka. jadi semriwing semriwing lah.

sunset di Senggigi




dari Bangsal kami bayar lagi lagi murah banget untuk naik public boat ke Gili Meno, seingat saya sih 15 ribu. sambil nunggu perahunya siap dinaiki, kami cari sarapan/makan siang di warung pelabuhan. si T suka banget sama nasi bungkus 7 ribuan, karena masih lapar akhirnya kami makan nasi ikan di salah satu warung dan beli jajanan pasar yang saya udah kangen banget. sampai Gili Meno, kami langsung jalan menuju penginapan. disini dilarang naik kendaraan bermotor, jadi moda transportasi kemana-mana adalah delman, sepeda, atau jalan kaki. untungnya di hostel yang kami tuju masih ada kasur kosong. hostel ini jadi salah satu highlight perjalanan kami, karena ini bukan hostel biasa. saya suka karena desainnya unik, penataan ruangannya efektif dan harganya sangat terjangkau. sayangnya saya satu-satunya turis lokal yang menginap disitu. sisanya turis-turis asing yang juga backpacker. tapi yang saya suka dari traveling dan bertemu orang baruadalah cerita-cerita seru dari berbagai macam belahan dunia. nama hostelnya adalah The Rabbit Tree, mungkin bisa jadi salah satu alternatif pilihan menginap di Gili Meno. (mereka punya acara movie night dan party tiap malam gantian, jadi untuk yang kurang suka suasana party mungkin bisa pikir-pikir lagi, karena suasana bisa jadi cukup ekstrim untuk yang belum terbiasa. saya sih tidur di kamar aja.) Tiap pagi ada sarapan pancakes, kopi dan teh. kami cukup bayar 100 ribu aja per malam tiap orang untuk kamar Tree House yang isinya lima orang.

di Gili Meno kami main voli pantai bareng tamu hostel yang lain, snorkeling, makan di warung, ngobrol dengan penduduk lokal, nonton sunrise di pantai, lihat penangkaran penyu, malas-malasan baca buku di pantai, main tenis meja di halaman belakang hostel dan jalan kaki muterin satu pulau. untuk makan di Meno kami cukup hemat, karena sarapan termasuk harga menginap hostel, kami biasanya jajan beli buah lalu makan di warung malamnya. harga warung disini sekitar 20 ribu- 45 ribu, cukup murah dibandingkan dengan harga makanan resto.





halaman belakang hostel




ruang sarapan hostel yang bisa diisi air dan jadi pool



it's "pablick" not public

sunrise di Gili Meno



setelah 2 malam di Gili Meno, kami pulang menuju Bali. kali ini karena alasan waktu yang mepet, kami memilih naik fast boat dari Gili Meno ke Padang Bai lalu lanjut ke Sanur. harga tiket fast boat 350 ribu, termasuk travel dari Padang Bai ke Sanur. di Sanur kami ngga stay lama-lama, karena terlalu ramai turis asing dan lokal. setelah semalam menginap di hostel, kami naik taksi ke Kuta (maklum turis sis, biar tau aja kata mereka Kuta kayak apa), main ombak sebentar lalu naik taksi ke terminal bus Mengwi. dari terminal Mengwi kami naik bus ke Banyuwangi (harga tiket bus AC 150 ribu), karena dini hari kami harus mulai jalan ke kawah Ijen untuk lihat blue fire.

cerita naik gunungnya di post berikutnya ya, sekarang sampai sini aja dulu saudara-saudara. see ya!
hellow! akhirnya kepikiran nulis lagi setelah entah berapa lama absen. bahkan nengok blog sendiri aja malas banget. daripada ngga ada yang bermanfaat yang bisa dibagi marilah saya mulai tengah tahun ini dengan cerita perjalanan pulang kampung yang disertai puluhan kilo jalan kaki siang-siang, hampir 2 hari menyeberangi setengah bumi, ngambek gantian dan entah berapa puluh tusuk sate 😅

seminggu pertama saya ceritakan singkat aja, saya terbang 12 jam dari Frankfurt ke Singapura, transit 15 jam di bandara Changi, terbang ke Jakarta, nunggu flight 5 jam dari Jakarta ke Surabaya plus 2-3 jam dari Surabaya sampai rumah di Malang. kami yang harusnya terbang berempat jadi tinggal berdua aja, karena satu orang teman saya harus operasi mulut di Jerman dan yang satunya lagi (mari kita sebut dia si T supaya ga bingung saudara saudara dan tetap menjaga privasi yang bersangkutan) patah tulang 2 hari sebelum penerbangan. doi pun akhirnya harus dioperasi juga, ironisnya hari dia dioperasi bersamaan dengan hari penerbangan kami (yang harusnya) sama-sama. jadilah di Malang saya dan teman baru saya, si A, (yang sebelumnya cuma say hi aja, jadi dia ini sahabat teman serumah saya yang harus operasi mulut, panggil aja si L) jalan-jalan, makan-makan, main ke pantai dan naik gunung.


setelah kurang lebih seminggu di Malang kami lanjut ke Bali naik mobil, dimana nanti di perjalanan-perjalanan selanjutnya kami ga ada yang bayarin makan lagi karena orang tua saya ga ikutan 😝 sampai di Bali kami langsung jemput T yang ngebet minta nyusul ke Indonesia meskipun tangannya baru dioperasi dan harus pakai gips kemana-mana. saya awalnya agak skeptis dengan Bali, karena pergi ke Bali sama dengan masuk jebakan turis yang amat sangat mainstream dan ingin sok hippie. tapi harus saya akui, saya sukaaaaa sama Ubud!

3 malam pertama di Bali kami bertiga tinggal di vila salah satu kenalan di daerah Tegallalang. jauh dari mana-mana. jalannya gelap. dikelilingin sawah. suuuuper seru!

Ubud day 1:
hari pertama kami memutuskan jalan ke hutan monyet alias Monkey Forest. saya sendiri bukan penggemar monyet jawa kecil-kecil yang suka nyolongin barang orang, tapi si A ini suka banget sama monyet. jadilah kami jalan kaki dari Tegallalang ke daerah Ubud sentral karena kami mahasiswa bokek yang pengen jalan-jalan tapi ngga punya duit, ngga ada mobil bro. setelah kurang lebih 5 km jalan kaki, kami mampir Pasar Ubud beli celana Bali, pisang susu buat bekal di jalan bukan buat monyet lalu nunggu shuttle bus gratis yang bakal mengantarkan kami ke Monkey Forest.

kami pun jalan mengelilingi Monkey Forest nya, tentu aja saya pake digelandotin monyet dan beberapa nyolong tisunya A dari tas tapi karena kami cerdas ga ada makanan yang dicolong sama monyet-monyet petakilan ini ;) sepulangnya dari sana kami cari makan siang yang digabung makan malam (hehe) di sekitar Jl. Monkey Forest. harga makanan di daerah Ubud masih banyak yang masuk akal menurut saya dan rasanya juga oke. salah satunya yang bisa saya rekomendasikan adalah si Dian Resto. daaaan kami menemukan es bikinan sendiri alias homemade paling enak yang pernah kami makan, ini ga bohong, namanya Paletas Wey. kami nyobain rasa nanas. peanut, mangga, banana nutella sama chocolate avocado dan semuanya enak!! sampai-sampai tiap hari kalau jalan ke Ubud pasti beli es haha.. hari itu kami akhiri dengan jalan kaki balik ke Tegallalang, kaki rasanya super capek setelah jalan dari siang sampe jam 9 malam, tapi hari pertama di Ubud sangat amat menyenangkan!



Ubud day 2:
di hari kedua kami memutuskan mengadakan penjelajahan sawah di Tegallalang, karena Tegallalang memang terkenal sama sawahnya atau rice terrace kalau turis-turis bilang. untungnya sebelum kami nyasar masuk sawah orang, yang punya vila tempat kami tinggal menawarkan untuk 'mblakrak' bareng kami sekalian nunjukin jalan, karena mereka dalam seminggu beberapa kali rutin jalan-jalan lewat sawah-sawah disitu. saya merasa bersyukur jadi orang Indonesia yang tanahnya subur, sepanjang tahun bisa ditanami apa saja, sementara disini kalau musim dingin yang tumbuh cuma kentang dan beberapa sayuran.

selesai jadi rara the sawah explorer, kami berpisah jalan dengan si empunya vila, mereka balik pulang dan kami lanjut jalan sedikit ke tempat makan di tengah sawah namanya Greenkubu. Makanannya biasa aja menurut kami, tapi viewnya indah dan kita bisa naik ayunan super tinggi di hutan belantara cukup dengan bayar 20 ribu aja. sorenya kami santai-santai di vila, renang sampai malam, lihat sunset dari kolam renang, makan malam lalu tidur pulas banget.








Ubud day 3:
nah di hari ketiga kami berencana agak keluar dari Ubud sedikit, jadi kami memutuskan untuk menyewa mobil plus sopirnya sekalian. kombinasi trio kami juga kurang memadai untuk nyetir sendiri; yang satu tangannya patah, saya ga bisa nyetir dan satunya lagi takut nyetir di jalanan Bali yang liar. jadi ceritanya hari itu agak mewah, gengs, jalan-jalannya karena naik mobil lol.

tujuan kami adalah Green School Bali. saya sudah lama banget pengen ikutan tournya sekolah ini, karena selain sekolahnya sangat ramah lingkungan, mereka juga punya proyek-proyek yang melibatkan penduduk sekitar yang hasilnya masyarakat lokal pun jadi sadar lingkungan juga. sayangnya memang sekolah disini biayanya mahal banget, jual ginjal aja ga cukup hiks jadi kurang dari 20% siswanya adalah WNI (penduduk lokal yang diberi beasiswa), sisanya adalah anak-anak pendatang atau ekspatriat.

setelah dari Green School di Badung kami ke kebun kopi, sayangnya saya lupa ini dimana. seingat saya sih sebelum ke arah Kintamani, setelah Pura Tirta Empul. oh iya sebelum itu kami ke Pura Goa Gajah, menurut saya oke aja sih, tidak spektakuler dan tidak jelek juga. tapi jujur aja masih banyak tempat lain yang worth it untuk dikunjungi. di kebun kopi kami bisa mencoba macam-macam jenis kopi dan teh gratis termasuk teh beras merah, teh manggis, teh kunir dan teh jahe, kecuali kopi luwak harus bayar 50 ribu buat nyoba satu cangkir. karena kami miskin dan senang-senang aja dapat kopi dan teh gratis, akhirnya ngga nyobain deh. cukup ngelus-ngelus luwak dan anak luwak aja udah puas.

sorenya kami memutuskan untuk balik ke Ubud dan trekking versi centil karena medannya ga susah sama sekali, tapi pemandangannya bagus sekaliiii melewati Campuhan Ridge Walk. disini si T mulai rada bad mood karena dia orangnya cukup introvert dan rupanya orang introvert butuh waktu sendiri setelah beberapa saat bergaul sama orang pencilakan macam saya sama si A.. jadi saya pun jalan ke arah Desa Campuhan berdua sama A, eh ngga taunya saking semangatnya jalan dan cerita kami kejauhan jalan kakinya sampai udah ngga ada jalur trekking nya lagi.. 😂

malamnya kami bertiga nonton tari Kecak di suatu Pura yang saya lupa namanya, pokoknya dari Jl. Raya Ubud sekitar 1-2 km lagi dari perempatan dekat Ubud Palace. ini keren banget, awalnya saya udah ngga mau aja diajakin nonton tarian tradisional, eh ternyata suka juga hehe.

sungai sebelum start point Campuhan Ridge Walk

sungai di Green School

salah satu bangunan sekolah Green School






naik ayunan di Green School

jalur Campuhan Ridge Walk

ayunan di tengah-tengah Ridge Walk, kalau jatuh ngglundung ke hutan

hari berikutnya kami akan jalan lanjut ke Lombok dan Gili, tapi karena post ini sudah terlalu panjang, saya akhiri sampai sini aja dulu. selanjutnya akan ada pantai-pantai dan cerita-cerita yang semoga juga akan menarik. semoga juga penulisnya ngga malas buat nulis lagi hehe

see you soon! xx
Karena sudah terlanjur bilang tahun ini mau lebih sering nulis pakai bahasa Indonesia, jadi mari kita coba. (Sebetulnya saya sih yang mau coba, pembaca sih baca aja.)

Sejujurnya tiap saya buka Instagram dan lihat update-an beberapa teman yang semangat membagi ilmu agama, menggunakan istilah-istilah islami (ukhti, akhi, antum, ana, dll) dengan aktif dan beberapa kebelet menikah muda, saya sering dilanda perasaan campur aduk antara skeptis, menghargai, lalu skeptis lagi haha.
Jangan salah, saya tidak menghakimi mereka, tidak memberi penilaian apapun karena itu hak mereka dan selama masih dalam tujuan berbagi kebaikan kenapa harus dicaci? Lalu karena penasaran, saya mencoba membayangkan diri saya sendiri yang mengunggah hal-hal seperti itu, dengan asumsi pengikut saya di media sosial jadi tahu kedalaman pengetahuan agama saya, apa yang saya lakukan untuk membuat ilmu agama saya bertambah.. rasanya kok aneh ya. Ada kesan seakan-akan saya ingin orang lain tahu bahwa saya sedang 'berbuat baik' dan saya ini perempuan yang baik-baik juga kok yang islami dan ngga neko neko. Dalam hati saya ada sesuatu yang bilang, kalau memang mau memperbaiki diri apa harus diunggah ke internet atau harus banyak orang tahu? Apa kalau saya datang pengajian atau acara dengan tema islami lalu update di internet (atau juga tidak) saya jadi manusia yang lebih baik daripada saat saya baca buku dari Osho tentang spiritualitas yang lebih universal, yang dia sendiri tidak percaya tuhan, tapi nilai-nilainya sangat dekat dengan nilai Islam? Apa taaruf lalu nikah muda lebih baik daripada bersusah payah mengenalkan Islam kepada seseorang yang masih ragu apakah Tuhan itu ada, tapi selama ini secara tidak sadar dia sudah separuh jalan menerapkan ajaran Islam?

Saya kan jadi sering bingung, saudara-saudara. (Ya iyalah, bedain akhwat sama ikhwan aja bingung lu Ra.)

Ada fase dimana saya sangat amat termotivasi menjadi lebih agamis dengan cara berusaha pakai rok kemana-mana mau pergi, kerudungnya dipanjangkan, kalau bicara dan tertawa dihalus-halusin ngga nyolot seperti biasanya, mengurangi bergaul dengan banyak teman laki-laki dan lebih sering datang pengajian. Tapi justru saya merasa itu bukan diri saya dan tidak menemukan kesadaran-kesadaran spiritual baru karena saya yang pada dasarnya pecicilan ini jadi merasa dibatasi ruang geraknya oleh yang namanya, kata orang-orang, syariat.

Setelah dibenturkan dengan masalah-masalah dan kebodohan-kebodohan sendiri, baru saya tahu bahwa semua itu memang sudah ada garisnya, aturan-aturannya, ketetapan dari Allah yang memang begitu cara kerjanya. Kalau saya menolak mendengarkan kata hati saya, yang mencoba meneriaki saya kalau yang saya lakukan itu salah, berarti saya menyalahi diri saya sendiri kan? Baru saya tahu kalau syariat itu mencakup semua-mua-muanya yang ada di alam semesta ini, termasuk kencing, mandi, olahraga, makan, tidur. Kalau saya menyalahi diri saya sendiri dengan tidak olahraga berarti saya tidak menjalankan syariat kan? Apa definisi syariat itu cuma tidak bersalaman dengan non muhrim, pakai kerudung sampai menjuntai ke lantai, dll dll?

Saya yang pengetahuan agamanya secetek kolam ikan ini sepertinya memang harus dibiarkan jatuh masuk lubang kehinaan penuh dosa dulu baru sadar wakakaka.

Tapi yang saya syukuri, saya sangat amat beruntung menjadi orang yang relatif intuitif dan spiritual. Perasaan dan insting saya sering menuntun saya menuju hal-hal yang dulu cuma bisa saya bayangkan atau malah jauh lebih baik dari apa yang pernah saya harapkan. Lagi-lagi, perasaan itu datangnya dari Tuhan juga kan. Semoga Tuhan masih sayang sama saya (dan kita semua) jadi kita masih diberi kesadaran untuk bersyukur dan selalu belajar. Kalau ada yang mau diskusi dan belajar agama sama-sama, dengan senang hati lho, asal ujungnya bukan jadi debat kusir aja.. :D 
Opini pribadi di atas jangan dimasukkan ke hati juga, bagi yang merasa sakit hatinya.. semuanya tidak dimaksudkan personal kok.

Stay positive, xx