Agamaku, Kolam Ikanku

, , 2 comments
Karena sudah terlanjur bilang tahun ini mau lebih sering nulis pakai bahasa Indonesia, jadi mari kita coba. (Sebetulnya saya sih yang mau coba, pembaca sih baca aja.)

Sejujurnya tiap saya buka Instagram dan lihat update-an beberapa teman yang semangat membagi ilmu agama, menggunakan istilah-istilah islami (ukhti, akhi, antum, ana, dll) dengan aktif dan beberapa kebelet menikah muda, saya sering dilanda perasaan campur aduk antara skeptis, menghargai, lalu skeptis lagi haha.
Jangan salah, saya tidak menghakimi mereka, tidak memberi penilaian apapun karena itu hak mereka dan selama masih dalam tujuan berbagi kebaikan kenapa harus dicaci? Lalu karena penasaran, saya mencoba membayangkan diri saya sendiri yang mengunggah hal-hal seperti itu, dengan asumsi pengikut saya di media sosial jadi tahu kedalaman pengetahuan agama saya, apa yang saya lakukan untuk membuat ilmu agama saya bertambah.. rasanya kok aneh ya. Ada kesan seakan-akan saya ingin orang lain tahu bahwa saya sedang 'berbuat baik' dan saya ini perempuan yang baik-baik juga kok yang islami dan ngga neko neko. Dalam hati saya ada sesuatu yang bilang, kalau memang mau memperbaiki diri apa harus diunggah ke internet atau harus banyak orang tahu? Apa kalau saya datang pengajian atau acara dengan tema islami lalu update di internet (atau juga tidak) saya jadi manusia yang lebih baik daripada saat saya baca buku dari Osho tentang spiritualitas yang lebih universal, yang dia sendiri tidak percaya tuhan, tapi nilai-nilainya sangat dekat dengan nilai Islam? Apa taaruf lalu nikah muda lebih baik daripada bersusah payah mengenalkan Islam kepada seseorang yang masih ragu apakah Tuhan itu ada, tapi selama ini secara tidak sadar dia sudah separuh jalan menerapkan ajaran Islam?

Saya kan jadi sering bingung, saudara-saudara. (Ya iyalah, bedain akhwat sama ikhwan aja bingung lu Ra.)

Ada fase dimana saya sangat amat termotivasi menjadi lebih agamis dengan cara berusaha pakai rok kemana-mana mau pergi, kerudungnya dipanjangkan, kalau bicara dan tertawa dihalus-halusin ngga nyolot seperti biasanya, mengurangi bergaul dengan banyak teman laki-laki dan lebih sering datang pengajian. Tapi justru saya merasa itu bukan diri saya dan tidak menemukan kesadaran-kesadaran spiritual baru karena saya yang pada dasarnya pecicilan ini jadi merasa dibatasi ruang geraknya oleh yang namanya, kata orang-orang, syariat.

Setelah dibenturkan dengan masalah-masalah dan kebodohan-kebodohan sendiri, baru saya tahu bahwa semua itu memang sudah ada garisnya, aturan-aturannya, ketetapan dari Allah yang memang begitu cara kerjanya. Kalau saya menolak mendengarkan kata hati saya, yang mencoba meneriaki saya kalau yang saya lakukan itu salah, berarti saya menyalahi diri saya sendiri kan? Baru saya tahu kalau syariat itu mencakup semua-mua-muanya yang ada di alam semesta ini, termasuk kencing, mandi, olahraga, makan, tidur. Kalau saya menyalahi diri saya sendiri dengan tidak olahraga berarti saya tidak menjalankan syariat kan? Apa definisi syariat itu cuma tidak bersalaman dengan non muhrim, pakai kerudung sampai menjuntai ke lantai, dll dll?

Saya yang pengetahuan agamanya secetek kolam ikan ini sepertinya memang harus dibiarkan jatuh masuk lubang kehinaan penuh dosa dulu baru sadar wakakaka.

Tapi yang saya syukuri, saya sangat amat beruntung menjadi orang yang relatif intuitif dan spiritual. Perasaan dan insting saya sering menuntun saya menuju hal-hal yang dulu cuma bisa saya bayangkan atau malah jauh lebih baik dari apa yang pernah saya harapkan. Lagi-lagi, perasaan itu datangnya dari Tuhan juga kan. Semoga Tuhan masih sayang sama saya (dan kita semua) jadi kita masih diberi kesadaran untuk bersyukur dan selalu belajar. Kalau ada yang mau diskusi dan belajar agama sama-sama, dengan senang hati lho, asal ujungnya bukan jadi debat kusir aja.. :D 
Opini pribadi di atas jangan dimasukkan ke hati juga, bagi yang merasa sakit hatinya.. semuanya tidak dimaksudkan personal kok.

Stay positive, xx



2 comments:

  1. Dalam proses pertumbuhan jiwa anak muda, seringkali ada tekanan besar yang biasanya berasal dari peer group. Seperti yang kau ceritakan di sini Rara, ada tekanan yang membuat kalian gelisah jika sampai dianggap "kurang islami" dsb.

    Dulu saya khawatir anak2ku akan kesulitan melewati peer pressure ini. Ternyata alhamdulillah ... kekhawatiran itu ternyata tidak perlu sama sekali :-). Mengapa?

    Karena anak2 saya telah dibiasakan untuk jujur dan mendengarkan diri sendiri. Itu menjadikan mereka menjadi anak2 yang merasa lebih baik jika DIBEBASKAN, bukan diperintah dan dilarang-larang. Mereka juga merasa lebih nyaman jika DIPERLAKUKAN dalam ATMOSFER KESETARAAN, bukannya digurui... apalagi diremehkan kecerdasan mereka seakan2 masih kanak2 yang belum bisa berpikir.

    Mereka juga lebih percaya pada orang yang bisa menerima mereka apa adanya, tanpa perlu repot2 memberi kesan palsu terlebih dahulu ...

    Jadi sesungguhnya, peer pressure yang dihadapi remaja sekarang itu gak akan berhasil menaklukkan anak-anak yang terbiasa dengan kemerdekaan dalam memilih dan berpikir. Mereka mungkin akan menyerang kita dengan sebutan liberal. Tapi ... ah, tinggalkan sajalah segala perdebatan yang tak bisa kita menangkan! ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah jadi terharu, komentarnya on point banget Tante.. :)

      Delete