pulang kampung part 1

, , No Comments
hellow! akhirnya kepikiran nulis lagi setelah entah berapa lama absen. bahkan nengok blog sendiri aja malas banget. daripada ngga ada yang bermanfaat yang bisa dibagi marilah saya mulai tengah tahun ini dengan cerita perjalanan pulang kampung yang disertai puluhan kilo jalan kaki siang-siang, hampir 2 hari menyeberangi setengah bumi, ngambek gantian dan entah berapa puluh tusuk sate 😅

seminggu pertama saya ceritakan singkat aja, saya terbang 12 jam dari Frankfurt ke Singapura, transit 15 jam di bandara Changi, terbang ke Jakarta, nunggu flight 5 jam dari Jakarta ke Surabaya plus 2-3 jam dari Surabaya sampai rumah di Malang. kami yang harusnya terbang berempat jadi tinggal berdua aja, karena satu orang teman saya harus operasi mulut di Jerman dan yang satunya lagi (mari kita sebut dia si T supaya ga bingung saudara saudara dan tetap menjaga privasi yang bersangkutan) patah tulang 2 hari sebelum penerbangan. doi pun akhirnya harus dioperasi juga, ironisnya hari dia dioperasi bersamaan dengan hari penerbangan kami (yang harusnya) sama-sama. jadilah di Malang saya dan teman baru saya, si A, (yang sebelumnya cuma say hi aja, jadi dia ini sahabat teman serumah saya yang harus operasi mulut, panggil aja si L) jalan-jalan, makan-makan, main ke pantai dan naik gunung.


setelah kurang lebih seminggu di Malang kami lanjut ke Bali naik mobil, dimana nanti di perjalanan-perjalanan selanjutnya kami ga ada yang bayarin makan lagi karena orang tua saya ga ikutan 😝 sampai di Bali kami langsung jemput T yang ngebet minta nyusul ke Indonesia meskipun tangannya baru dioperasi dan harus pakai gips kemana-mana. saya awalnya agak skeptis dengan Bali, karena pergi ke Bali sama dengan masuk jebakan turis yang amat sangat mainstream dan ingin sok hippie. tapi harus saya akui, saya sukaaaaa sama Ubud!

3 malam pertama di Bali kami bertiga tinggal di vila salah satu kenalan di daerah Tegallalang. jauh dari mana-mana. jalannya gelap. dikelilingin sawah. suuuuper seru!

Ubud day 1:
hari pertama kami memutuskan jalan ke hutan monyet alias Monkey Forest. saya sendiri bukan penggemar monyet jawa kecil-kecil yang suka nyolongin barang orang, tapi si A ini suka banget sama monyet. jadilah kami jalan kaki dari Tegallalang ke daerah Ubud sentral karena kami mahasiswa bokek yang pengen jalan-jalan tapi ngga punya duit, ngga ada mobil bro. setelah kurang lebih 5 km jalan kaki, kami mampir Pasar Ubud beli celana Bali, pisang susu buat bekal di jalan bukan buat monyet lalu nunggu shuttle bus gratis yang bakal mengantarkan kami ke Monkey Forest.

kami pun jalan mengelilingi Monkey Forest nya, tentu aja saya pake digelandotin monyet dan beberapa nyolong tisunya A dari tas tapi karena kami cerdas ga ada makanan yang dicolong sama monyet-monyet petakilan ini ;) sepulangnya dari sana kami cari makan siang yang digabung makan malam (hehe) di sekitar Jl. Monkey Forest. harga makanan di daerah Ubud masih banyak yang masuk akal menurut saya dan rasanya juga oke. salah satunya yang bisa saya rekomendasikan adalah si Dian Resto. daaaan kami menemukan es bikinan sendiri alias homemade paling enak yang pernah kami makan, ini ga bohong, namanya Paletas Wey. kami nyobain rasa nanas. peanut, mangga, banana nutella sama chocolate avocado dan semuanya enak!! sampai-sampai tiap hari kalau jalan ke Ubud pasti beli es haha.. hari itu kami akhiri dengan jalan kaki balik ke Tegallalang, kaki rasanya super capek setelah jalan dari siang sampe jam 9 malam, tapi hari pertama di Ubud sangat amat menyenangkan!



Ubud day 2:
di hari kedua kami memutuskan mengadakan penjelajahan sawah di Tegallalang, karena Tegallalang memang terkenal sama sawahnya atau rice terrace kalau turis-turis bilang. untungnya sebelum kami nyasar masuk sawah orang, yang punya vila tempat kami tinggal menawarkan untuk 'mblakrak' bareng kami sekalian nunjukin jalan, karena mereka dalam seminggu beberapa kali rutin jalan-jalan lewat sawah-sawah disitu. saya merasa bersyukur jadi orang Indonesia yang tanahnya subur, sepanjang tahun bisa ditanami apa saja, sementara disini kalau musim dingin yang tumbuh cuma kentang dan beberapa sayuran.

selesai jadi rara the sawah explorer, kami berpisah jalan dengan si empunya vila, mereka balik pulang dan kami lanjut jalan sedikit ke tempat makan di tengah sawah namanya Greenkubu. Makanannya biasa aja menurut kami, tapi viewnya indah dan kita bisa naik ayunan super tinggi di hutan belantara cukup dengan bayar 20 ribu aja. sorenya kami santai-santai di vila, renang sampai malam, lihat sunset dari kolam renang, makan malam lalu tidur pulas banget.








Ubud day 3:
nah di hari ketiga kami berencana agak keluar dari Ubud sedikit, jadi kami memutuskan untuk menyewa mobil plus sopirnya sekalian. kombinasi trio kami juga kurang memadai untuk nyetir sendiri; yang satu tangannya patah, saya ga bisa nyetir dan satunya lagi takut nyetir di jalanan Bali yang liar. jadi ceritanya hari itu agak mewah, gengs, jalan-jalannya karena naik mobil lol.

tujuan kami adalah Green School Bali. saya sudah lama banget pengen ikutan tournya sekolah ini, karena selain sekolahnya sangat ramah lingkungan, mereka juga punya proyek-proyek yang melibatkan penduduk sekitar yang hasilnya masyarakat lokal pun jadi sadar lingkungan juga. sayangnya memang sekolah disini biayanya mahal banget, jual ginjal aja ga cukup hiks jadi kurang dari 20% siswanya adalah WNI (penduduk lokal yang diberi beasiswa), sisanya adalah anak-anak pendatang atau ekspatriat.

setelah dari Green School di Badung kami ke kebun kopi, sayangnya saya lupa ini dimana. seingat saya sih sebelum ke arah Kintamani, setelah Pura Tirta Empul. oh iya sebelum itu kami ke Pura Goa Gajah, menurut saya oke aja sih, tidak spektakuler dan tidak jelek juga. tapi jujur aja masih banyak tempat lain yang worth it untuk dikunjungi. di kebun kopi kami bisa mencoba macam-macam jenis kopi dan teh gratis termasuk teh beras merah, teh manggis, teh kunir dan teh jahe, kecuali kopi luwak harus bayar 50 ribu buat nyoba satu cangkir. karena kami miskin dan senang-senang aja dapat kopi dan teh gratis, akhirnya ngga nyobain deh. cukup ngelus-ngelus luwak dan anak luwak aja udah puas.

sorenya kami memutuskan untuk balik ke Ubud dan trekking versi centil karena medannya ga susah sama sekali, tapi pemandangannya bagus sekaliiii melewati Campuhan Ridge Walk. disini si T mulai rada bad mood karena dia orangnya cukup introvert dan rupanya orang introvert butuh waktu sendiri setelah beberapa saat bergaul sama orang pencilakan macam saya sama si A.. jadi saya pun jalan ke arah Desa Campuhan berdua sama A, eh ngga taunya saking semangatnya jalan dan cerita kami kejauhan jalan kakinya sampai udah ngga ada jalur trekking nya lagi.. 😂

malamnya kami bertiga nonton tari Kecak di suatu Pura yang saya lupa namanya, pokoknya dari Jl. Raya Ubud sekitar 1-2 km lagi dari perempatan dekat Ubud Palace. ini keren banget, awalnya saya udah ngga mau aja diajakin nonton tarian tradisional, eh ternyata suka juga hehe.

sungai sebelum start point Campuhan Ridge Walk

sungai di Green School

salah satu bangunan sekolah Green School






naik ayunan di Green School

jalur Campuhan Ridge Walk

ayunan di tengah-tengah Ridge Walk, kalau jatuh ngglundung ke hutan

hari berikutnya kami akan jalan lanjut ke Lombok dan Gili, tapi karena post ini sudah terlalu panjang, saya akhiri sampai sini aja dulu. selanjutnya akan ada pantai-pantai dan cerita-cerita yang semoga juga akan menarik. semoga juga penulisnya ngga malas buat nulis lagi hehe

see you soon! xx

0 comments:

Post a Comment