pulang kampung part 2

, , No Comments
edisi kali ini adalah edisi asal jalan tapi seru dan ga keluar banyak duit. oh iya selama bukan high season, cari hostel yang murah di Ubud lumayan gampang, harga rata-rata sekitar 200-350 ribu aja semalam.

dari Ubud kami naik travel ke kota pelabuhan Padang Bai. ini saya sarankan kalau belum terlalu tau jalan dan ngga bawa kendaraan pribadi. salah satu tour & travel yang bisa saya sarankan adalah Perama. kami bayar 175 ribu untuk rute Ubud-Senggigi lewat Padang Bai. dari Padang Bai kami naik kapal ferry biasa, cukup 15 ribu rupiah sampai pelabuhan Lembar, Lombok. tapi ya namanya cuma bayar 15 ribu, kami butuh waktu sekitar 6 jam buat nyebrang dari Padang Bai ke Lembar. dari Lembar kami naik travel lagi, masih dari Perama dan memutuskan menginap semalam di Senggigi. lagi lagi cukup gampang buat nemu hostel murah, untungnya kami selama disana bukan saat high season. tips dari saya, coba cari penginapan lewat laman internet Airy Rooms, karena penginapan-penginapannya cukup bersih dan terjangkau.

di Senggigi sayangnya menurut kami pantainya tidak terlalu spesial. sore menjelang matahari terbenam kami jalan kaki (seperti biasa) menuju pantai, karena ngga nemu apa-apa jadi kami duduk duduk di pinggir pantai, main gitar dan nyanyi dengan dua penduduk lokal yang ternyata bisa bahasa jerman sedikit sedikit. paginya karena kami bingung mau pilih jasa fast boat atau public boat yang mana untuk menyeberang ke Gili Meno (dan karena saya jalan bareng dua turis asing yang sudah kaya mangsa empuk), datang lah dua orang ke arah kami. yang satu supir taksi, yang satu supir angkutan umum. setelah tawar menawar yang sengit jadilah kami nyewa satu "mobil" angkutan umum menuju Bangsal, kota pelabuhan sebelum ke Gili. cukup 100 ribu aja buat tiga orang. ini seru juga, karena sepanjang jalan kami bisa lihat pantai-pantai di Lombok yang indah dari dalam angkutan yang pintu belakangnya sengaja terbuka. jadi semriwing semriwing lah.

sunset di Senggigi




dari Bangsal kami bayar lagi lagi murah banget untuk naik public boat ke Gili Meno, seingat saya sih 15 ribu. sambil nunggu perahunya siap dinaiki, kami cari sarapan/makan siang di warung pelabuhan. si T suka banget sama nasi bungkus 7 ribuan, karena masih lapar akhirnya kami makan nasi ikan di salah satu warung dan beli jajanan pasar yang saya udah kangen banget. sampai Gili Meno, kami langsung jalan menuju penginapan. disini dilarang naik kendaraan bermotor, jadi moda transportasi kemana-mana adalah delman, sepeda, atau jalan kaki. untungnya di hostel yang kami tuju masih ada kasur kosong. hostel ini jadi salah satu highlight perjalanan kami, karena ini bukan hostel biasa. saya suka karena desainnya unik, penataan ruangannya efektif dan harganya sangat terjangkau. sayangnya saya satu-satunya turis lokal yang menginap disitu. sisanya turis-turis asing yang juga backpacker. tapi yang saya suka dari traveling dan bertemu orang baruadalah cerita-cerita seru dari berbagai macam belahan dunia. nama hostelnya adalah The Rabbit Tree, mungkin bisa jadi salah satu alternatif pilihan menginap di Gili Meno. (mereka punya acara movie night dan party tiap malam gantian, jadi untuk yang kurang suka suasana party mungkin bisa pikir-pikir lagi, karena suasana bisa jadi cukup ekstrim untuk yang belum terbiasa. saya sih tidur di kamar aja.) Tiap pagi ada sarapan pancakes, kopi dan teh. kami cukup bayar 100 ribu aja per malam tiap orang untuk kamar Tree House yang isinya lima orang.

di Gili Meno kami main voli pantai bareng tamu hostel yang lain, snorkeling, makan di warung, ngobrol dengan penduduk lokal, nonton sunrise di pantai, lihat penangkaran penyu, malas-malasan baca buku di pantai, main tenis meja di halaman belakang hostel dan jalan kaki muterin satu pulau. untuk makan di Meno kami cukup hemat, karena sarapan termasuk harga menginap hostel, kami biasanya jajan beli buah lalu makan di warung malamnya. harga warung disini sekitar 20 ribu- 45 ribu, cukup murah dibandingkan dengan harga makanan resto.





halaman belakang hostel




ruang sarapan hostel yang bisa diisi air dan jadi pool



it's "pablick" not public

sunrise di Gili Meno



setelah 2 malam di Gili Meno, kami pulang menuju Bali. kali ini karena alasan waktu yang mepet, kami memilih naik fast boat dari Gili Meno ke Padang Bai lalu lanjut ke Sanur. harga tiket fast boat 350 ribu, termasuk travel dari Padang Bai ke Sanur. di Sanur kami ngga stay lama-lama, karena terlalu ramai turis asing dan lokal. setelah semalam menginap di hostel, kami naik taksi ke Kuta (maklum turis sis, biar tau aja kata mereka Kuta kayak apa), main ombak sebentar lalu naik taksi ke terminal bus Mengwi. dari terminal Mengwi kami naik bus ke Banyuwangi (harga tiket bus AC 150 ribu), karena dini hari kami harus mulai jalan ke kawah Ijen untuk lihat blue fire.

cerita naik gunungnya di post berikutnya ya, sekarang sampai sini aja dulu saudara-saudara. see ya!

0 comments:

Post a Comment